Minggu, 30 September 2012

EFEKTIVITAS ORGANISASI dalam KAITANNYA dengan REFORMASI BIROKRASI

BAB II PEMBAHASAN EFEKTIVITAS ORGANISASI A. Pengertian Efektivitas Menurut Richard M. Steers (1980 : 1), efektivitas yang berasal dari kata efektif, yaitu suatu pekerjaan dikatakan efektif jika suatu pekerjaan dapat menghasilkan satu unit keluaran (output). Suatu pekerjaan dikatakan efektif jika suatu pekerjaan dapat diselesaikan tepat pada waktunya sesuai dengan rencana yang ditetapkan. Efektivitas menurut Bedjo Siswanto (1990 : 62) berarti menjalankan pekerjaan yang benar. Efektivitas kerja juga bisa berarti suatu keadaan dimana aktivitas-aktivitas jasmaniah dan rokhaniah yang dilakukan oleh manusia dapat mencapai hasil sesuai yang dikehendaki (Soegeng, 1994 : 95). Efektivitas berarti kemampuan untuk memilih sasaran yang tepat. Dari beberapa pengertian tentang efektivitas maka dapat disimpulkan bahwa efektivitas kerja adalah penyelesaian pekerjaan tepat pada waktunya seperti yang telah ditetapkan sebelumnya untuk mencapai tujuan tertentu yang berhubungan dengan kelangsungan hidupnya. B. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Efektivitas Kerja Terdapat empat faktor yang mempengaruhi efektivitas kerja, seperti yang dikemukakan oleh Richard M. Steers (1980 : 9), yaitu: 1) Karakteristik Organisasi Karakteristik organisasi terdiri dari struktur dan teknologi organisasi yang dapat mempengaruhi segi-segi tertentu dari efektivitas dengan berbagai cara. Yang dimaksud struktur adalah suatu hubungan yang relatif tepat sifatnya, seperti dijumpai dalam organisasi, sehubungan dengan susunan sumber daya manusia struktur meliputi bagaimana cara organisasi menyusun orang-orangnya dalam menyelesaikan pekerjaan, sedangkan yang dimaksud tehnologi adalah mekanisme suatu organisasi umtuk mengubah masukan mentah menjadi keluaran. 2) Karakteristik Lingkungan Lingkungan luar dan lingkungan dalam juga telah dinyatakan berpengaruh atas efektivitas, keberhasilan hubungan organisasi lingkungan tampaknya amat tergantung pada tingkat variabel kunci yaitu tingkat keterdugaan keadaan lingkungan, ketepatan persepsi atas keadaan lingkungan, tingkat rasionalisme organisasi. 3) Karakteristik Pekerja Pada kenyataannya para anggota organisasi merupakan faktor pengaruh yang paling penting karena perilaku merekalah yang dalam jangka panjang akan memperlancar atau merintangi tercapainya tujuan organisasi. Pekerja merupakan sumber daya yang langsung berhubungan dengan pengelolaan semua sumber daya yang ada di dalam organisasi, oleh sebab itu perilaku pekerja sangat berpengaruh terhadap pencapaian tujuan organisasi, oleh sebab itu perilaku pekerja sangat berpengaruh terhadap pencapaian tujuan organisasi. Pekerja merupakan modal utama di dalam organisasi yang akan berpengaruh besar terhadap efektivitas, karena walaupun tehnologi yang digunakan merupakan tehnologi yang canggih dan didukung oleh adanya struktur yang baik, namun tanpa adanya pekerja maka semua itu tidak ada gunanya. 4) Karakteristik Kebijaksanaan dan Praktek Manajemen Dengan makin rumitnya proses teknologi dan perkembangan lingkungan maka peranan manajemen dalam mengkoordinasi orang dan proses demi keberhasilan organisasi semakin sulit. Kebijakan dan praktek manajemen dapat mempengaruhi pencapaian tujuan. Dalam hal ini, pimpinan dalam tanggung jawabnya terhadap para pekerja dan organisasi. C. Alat Ukur Efektivitas Kerja Menurut Richard M. Steers (1980 : 7), ada beberapa alat ukur efektivitas kerja. Yaitu : 1) Kemampuan menyesuaikan diri Kemampuan manusia terbatas dalam segala hal sehingga dengan keterbatasannya menyebabkan manusia tidak dapat mencapai pemenuhan kebutuhannya tanpa melalui kerja sama dengan orang lain. Hal ini sesuai dengan pendapat Richard M. Steers (1980 : 7) yang menyatakan bahwa kunci keberhasilan organisasi atau gagal kerja sama bagi pencapai tujuan. Setiap orang yang masuk ke dalam organisasi dituntut untuk dapat menyesuaikan diri dengan orang yang bekerja didalamnya maupun dengan tugas pekerjaan yang ada di dalam organisasi tersebut. Jika kemampuan menyesuaikan diri ini dapat berjalan maka tujuan organisasi dapat tercapai. 

BAB II PEMBAHASAN EFEKTIVITAS ORGANISASI A. Pengertian Efektivitas Menurut Richard M. Steers (1980 : 1), efektivitas yang berasal dari kata efektif, yaitu suatu pekerjaan dikatakan efektif jika suatu pekerjaan dapat menghasilkan satu unit keluaran (output). Suatu pekerjaan dikatakan efektif jika suatu pekerjaan dapat diselesaikan tepat pada waktunya sesuai dengan rencana yang ditetapkan. Efektivitas menurut Bedjo Siswanto (1990 : 62) berarti menjalankan pekerjaan yang benar. Efektivitas kerja juga bisa berarti suatu keadaan dimana aktivitas-aktivitas jasmaniah dan rokhaniah yang dilakukan oleh manusia dapat mencapai hasil sesuai yang dikehendaki (Soegeng, 1994 : 95). Efektivitas berarti kemampuan untuk memilih sasaran yang tepat. Dari beberapa pengertian tentang efektivitas maka dapat disimpulkan bahwa efektivitas kerja adalah penyelesaian pekerjaan tepat pada waktunya seperti yang telah ditetapkan sebelumnya untuk mencapai tujuan tertentu yang berhubungan dengan kelangsungan hidupnya. B. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Efektivitas Kerja Terdapat empat faktor yang mempengaruhi efektivitas kerja, seperti yang dikemukakan oleh Richard M. Steers (1980 : 9), yaitu: 1) Karakteristik Organisasi Karakteristik organisasi terdiri dari struktur dan teknologi organisasi yang dapat mempengaruhi segi-segi tertentu dari efektivitas dengan berbagai cara. Yang dimaksud struktur adalah suatu hubungan yang relatif tepat sifatnya, seperti dijumpai dalam organisasi, sehubungan dengan susunan sumber daya manusia struktur meliputi bagaimana cara organisasi menyusun orang-orangnya dalam menyelesaikan pekerjaan, sedangkan yang dimaksud tehnologi adalah mekanisme suatu organisasi umtuk mengubah masukan mentah menjadi keluaran. 2) Karakteristik Lingkungan Lingkungan luar dan lingkungan dalam juga telah dinyatakan berpengaruh atas efektivitas, keberhasilan hubungan organisasi lingkungan tampaknya amat tergantung pada tingkat variabel kunci yaitu tingkat keterdugaan keadaan lingkungan, ketepatan persepsi atas keadaan lingkungan, tingkat rasionalisme organisasi. 3) Karakteristik Pekerja Pada kenyataannya para anggota organisasi merupakan faktor pengaruh yang paling penting karena perilaku merekalah yang dalam jangka panjang akan memperlancar atau merintangi tercapainya tujuan organisasi. Pekerja merupakan sumber daya yang langsung berhubungan dengan pengelolaan semua sumber daya yang ada di dalam organisasi, oleh sebab itu perilaku pekerja sangat berpengaruh terhadap pencapaian tujuan organisasi, oleh sebab itu perilaku pekerja sangat berpengaruh terhadap pencapaian tujuan organisasi. Pekerja merupakan modal utama di dalam organisasi yang akan berpengaruh besar terhadap efektivitas, karena walaupun tehnologi yang digunakan merupakan tehnologi yang canggih dan didukung oleh adanya struktur yang baik, namun tanpa adanya pekerja maka semua itu tidak ada gunanya. 4) Karakteristik Kebijaksanaan dan Praktek Manajemen Dengan makin rumitnya proses teknologi dan perkembangan lingkungan maka peranan manajemen dalam mengkoordinasi orang dan proses demi keberhasilan organisasi semakin sulit. Kebijakan dan praktek manajemen dapat mempengaruhi pencapaian tujuan. Dalam hal ini, pimpinan dalam tanggung jawabnya terhadap para pekerja dan organisasi. C. Alat Ukur Efektivitas Kerja Menurut Richard M. Steers (1980 : 7), ada beberapa alat ukur efektivitas kerja. Yaitu : 1) Kemampuan menyesuaikan diri Kemampuan manusia terbatas dalam segala hal sehingga dengan keterbatasannya menyebabkan manusia tidak dapat mencapai pemenuhan kebutuhannya tanpa melalui kerja sama dengan orang lain. Hal ini sesuai dengan pendapat Richard M. Steers (1980 : 7) yang menyatakan bahwa kunci keberhasilan organisasi atau gagal kerja sama bagi pencapai tujuan. Setiap orang yang masuk ke dalam organisasi dituntut untuk dapat menyesuaikan diri dengan orang yang bekerja didalamnya maupun dengan tugas pekerjaan yang ada di dalam organisasi tersebut. Jika kemampuan menyesuaikan diri ini dapat berjalan maka tujuan organisasi dapat tercapai. 2) Kepuasan kerja Tingkat kesenangan yang dirasakan seseorang atas peranan atau pekerjaannya dalam organisasi. Tingkat rasa puas individu bahwa mereka mendapat imbalan yang setimpal, dari bermacam-macam aspek situasi pekerjaan dan organisasi tempat mereka berada. 3) Prestasi Kerja Prestasi kerja adalah suatu penyelesaian tugas pekerjaan yang sudah dibebankan sesuai dengan target yang telah ditentukan, bahkan ada yang melebihi target yang telah ditentukan sebelumnya. Menurut Gibson & James (1994 : 32) dalam Djoerban Wahid, S. H, menyebutkan bahwa organisasi harus mempunyai indikator yang menjamin kemungkinan bahwa organisasi itu akan hidup terus. Indikator ini sifatnya jangka-pendek dan meliputi ukuran mengenai : • Produksi, menggambarkan kemampuan organisasi untuk memproduksi jumlah dan mutu output yang sesuai dengan permintaan lingkungan. • Efisiensi, ukuran efisiensi meliputi tingkat laba modal atau harta, biaya per unit, sisa dan pembuangan, periode waktu mesin tidak aktif, dan sebagainya. • Kepuasan, penyusunan konsep organisasi sebagai suatu sistem sosial mengharuskan kita memperhatikan keuntungan yang diterima oleh para pesertanya maupun oleh para pelanggannya. • Adaptasi, kemampuan adaptasi adalah sampai seberapa jauh organisasi dapat menanggapi perubahan intern dan ekstern. • Perkembangan, usaha pengembangan yang biasa adalah program pelatihan bagi tenaga manajemen dan non-manajemen, tetapi sekarang ini pengembangan organisasi telah bertambah banyak macamnya dan meliputi sejumlah pendekatan psikologis dan sosiologis. Kebanyakan penulis yang membahas masalah efektivitas organisasi memusatkan perhatian terutama pada gejala-gejala dalam lingkup organisasi. Efektivitas selalu diukur berdasarkan prestasi, produktivitas, laba dan seterusnya. Dengan demikian, hanya sedikit saja perhatian diberikan pada peranan berbagai bagian dari sebuah organisasi dalam menentukan keberhasilan. Patokan yang bersifat makro terhadap studi efektivitas dalam organisasi ini cenderung menggunakan salah satu dari antara dua bentuk. Beberapa patokan, terutama yang lebih dini, memandang konsep ini dalam kerangka-kerangka berdimensi satu yang memusatkan perhatian hanya kepada satu kriteria evaluasi, misalnya produktivitas. Sebaliknya ukuran-ukuran efektivitas yang bervariasi ganda, memakai beberapa kriteria yang berbeda secara serempak (Steers, 1980 : 42). D. Pengertian Reformasi Birokrasi Secara Umum Reformasi birokrasi pada hakekatnya merupakan upaya untuk melakukan pembaharuan dan perubahan mendasar terhadap sistem penyelenggaraan pemerintahan terutama menyangkut aspek-aspek berikut : a) Kelembagaan (Organisasi) b) Ketatalaksanaan (Business Process) c) Sumber Daya Manusia Aparatur. Berbagai permasalahan/hambatan yang mengakibatkan sistem penyelenggaraan pemerintahan tidak berjalan atau diperkirakan tidak akan berjalan dengan baik harus ditata ulang atau diperbaharui. Reformasi birokrasi dilaksanakan dalam rangka mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance). Dengan kata lain, reformasi birokrasi adalah langkah strategis untuk membangun aparatur negara agar lebih berdaya guna dan berhasil guna dalam mengemban tugas umum pemerintahan dan pembangunan nasional. Selain itu dengan sangat pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi informasi dan komunikasi serta perubahan lingkungan strategis menuntut birokrasi pemerintahan untuk direformasi dan disesuaikan dengan dinamika tuntutan masyarakat. Oleh karena itu, harus segera diambil langkah-langkah yang bersifat mendasar, komprehensif dan sistemik, sehingga tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan dapat dicapai dengan efektif dan efisien. Reformasi di sini merupakan proses pembaharuan yang dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan, sehingga tidak termasuk upaya dan/atau tindakan yang bersifat radikal dan revolusioner. E. Pokok Pembahasan Kasus Motivasi merupakan salah satu faktor yang mendukung efektivitas kerja, karena motivasi adalah keadaan intern diri seseorang yang mengaktifkan dan mengarahkan tingkah lakunya kepada sasaran tertentu. Pemberian motivasi kepada pegawai dapat dilakukan dengan cara memberikan daya penggerak yang menciptakan kegairahan kerja seseorang agar mereka mau bekerja sama, bekerja efektif, dan terintegrasi dengan segala daya upayanya untuk mencapai kepuasan. Selain motivasi, setiap organisasi juga memerlukan disiplin kerja para pegawainya yang tunduk pada peraturan-peraturan yang telah ada dengan rasa kesetiaan dan ketaatan pegawai pada norma dan instruksi yang dinyatakan berlaku dalam organisasi tersebut. Dengan demikian, tingkat disiplin kerja hendaknya meliputi perhatian yang lebih dari suatu organisasi dalam rangka mencapai efektivitas kerja. Dalam pencapaian tujuan, rumusan organisasi harus mempertimbangkan bukan saja sasaran organisasi namun juga mekanisme mempertahankan diri dan mengejar sasaran. Disiplin disini dapat diukur dengan ketepatan jam kerja pegawai, ketaatan pakaian kerja pegawai, ketaatan pada peraturan tata tertib yang ditentukan kantor, serta semangat kerja pegawai. Motivasi yang ada pada diri seseorang merupakan kekuatan yang akan mewujudkan suatu perilaku dalam mencapai tujuan dan kepuasan yang terdapat dalam dirinya pada rangkaian pekerjaan yang pada akhirnya akan meningkatkan motivasi kerjanya sehingga berakibat pula meningkatnya efektivitas kerja pegawai tersebut. Motivasi di sini meliputi kebutuhan fisiologis, kebutuhan keselamatan dan keamanan, kebutuhan sosial, kebutuhan akan penghargaan, dan kebutuhan aktualisasi diri. Efektivitas kerja sangatlah diperlukan dalam suatu organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dengan terciptanya efektivitas kerja maka pegaawai akan berusaha untuk mengatasi dan memecahkan masalah-masalah yang dihadapi dalam pelaksanaan tugas dan pekerjaanya. Sebaliknya ketidakefektifan dalam bekerja, maka pegawai akan mudah menyerah bila mendapatkan kesulitan dalam pelaksanaan tugas sehingga sulit untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Efektivitas kerja di sini meliputi, prestasi kerja, kepuasan kerja, dan penyesuaian diri. Oleh karena itu, efektivitas kerja disini tidak akan dapat motivasi kerjanya sehingga berakibat pula meningkatnya efektivitas kerja pegawai tersebut. Selain motivasi, setiap organisasi juga memerlukan disiplin kerja para pegawainya yang tunduk pada peraturan-peraturan yang telah ada dengan rasa kesetiaan dan ketaatan pegawai pada norma dan instruksi yang dinyatakan berlaku dalam organisasi tersebut. Dengan demikian tingkat disiplin kerja hendaknya meliputi perhatian yang lebih dari suatu organisasi dalam rangka mencapai efektivitas kerja. Motivasi sangat penting dimiliki oleh setiap pegawai dalam meningkatkan efektivitas kerja pegawai. Sudah menjadi tugas seorang pimpinan untuk memberikan motivasi kepada para pegawainya, agar dapat bekerja sesuai dengan yang diharapkan. Tujuan organisasi akan mudah dicapai apabila pemimpin mampu mendorong pegawainya, sehingga akan menyebabkan timbulnya semangat kerja yang tinggi untuk meningkatkan hasil kerjanya. Selanjutnya, penulis akan mendeskripsikan dan menganalisis efektivitas organisasi sebagai suatu proses pendekatan pencapaian tujuan. Hal-hal yang terkait dalam strategi capaian kinerja Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) dari sistem penyelenggaraan pemerintahan non-kementerian selama kurun waktu 2005-2009 yang menyangkut aspek-aspek, sebagai berikut : 1) Peran dan Strategi BPKP 2) Strategi Pengawasan 3) Hasil penting yang telah dicapai 4) Rekapitulasi Hasil Audit 5) Rincian Kegiatan Pembinaan Sistem Pengendalian Intern (SPI) Selanjutnya, penulis mendeskripsikan efektivitas organisasi yang sedang dijalankan di Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Republik Indonesia dalam rangka meningkatkan pelayanan demi terciptanya pencapaian tujuan dan hasil yang telah ditetapkan sebagai suatu pendekatan pencapaian tujuan. Dari pembahasan mengenai strategi capaian kinerja Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Republik Indonesia selama kurun waktu 2005-2009 di atas, dapat dijelaskan bahwa berbagai permasalahan yang mengakibatkan sistem penyelenggaraan pemerintahan non-kementerian tidak berjalan dengan baik harus ditata ulang agar Reformasi Birokrasi dilaksanakan untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance). Suatu organisasi dapat mencapai efektivitas kerja yang baik apabila dilandasi oleh tugas dan kewajibannya dengan tidak melupakan kelima aspek yang telah dideskripsikan dalam pelaksanaannya seperti banyak hal yang telah dijelaskan di atas. Selain itu, dengan sangat pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi informasi dan komunikasi serta perubahan lingkungan strategis menuntut birokrasi pemerintahan untuk direformasi dan disesuaikan dengan dinamika tuntutan masyarakat agar lebih berdaya guna dan berhasil guna dalam mengemban tugas umum pemerintahan dan pembangunan nasional sehingga efektivitas organisasi yang sedang dijalankan di Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Republik Indonesia dalam rangka meningkatkan pelayanan dapat tercapai demi terciptanya pencapaian tujuan dan hasil yang telah ditetapkan sebagai suatu pendekatan pencapaian tujuan. BAB III KESIMPULAN Kesimpulan yang dapat diambil dari pokok pembahasan di atas, yaitu : • Efektivitas kerja adalah penyelesaian pekerjaan tepat pada waktunya seperti yang telah ditetapkan sebelumnya untuk mencapai tujuan tertentu yang berhubungan dengan kelangsungan hidupnya. • Pada intinya, seorang pegawai mutlak memiliki motivasi kerja yang tinggi, karena dengan motivasi kerja yang tinggi pegawai akan dapat bekerja dengan penuh semangat dan efektivitas kerja pun akan meningkat. • Efektivitas kerja pegawai akan tercapai apabila pegawai tersebut melaksanakan pekerjaannya dengan penuh kedisiplinan dalam artian disiplin yang baik mencerminkan besarnya rasa tanggung jawab seseorang terhadap tugas-tugas yang diberikan kepadanya sehingga hal ini mendorong gairah kerja, semangat kerja dan terwujudnya tujuan organisasi. • Terdapat lima hal penting dalam strategi capaian kinerja Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) dari sistem penyelenggaraan pemerintahan non-kementerian selama kurun waktu 2005-2009, yaitu : Peran dan Strategi BPKP, Strategi Pengawasan, hasil penting yang telah dicapai, Rekapitulasi Hasil Audit dan Rincian Kegiatan Pembinaan Sistem Pengendalian Intern (SPI) DAFTAR PUSTAKA http://afrita1804.blogspot.com/2011/02/efektivitas-dan-efisiensi-dalam.html http://admpublikandy.blogspot.com/2011/02/analisis-efektifitas-organisasi-bpkp.html http://www.gizikia.depkes.go.id/archives/3139

1 komentar:

Jangan lupa komentarnya ya!!!!!!