Senin, 01 Oktober 2012

Kalkulasi Biaya Proses : Laporan Biaya Produksi

Kalkulasi Biaya Proses :
Laporan Biaya Produksi

A.AKUMULASI BIAYA PROSES

Tujuan dari kalkulasi biaya pesanan atau (produk pesanan) atau biaya proses (produk massal)adalah untuk menentukan biaya dari unit – unit yang di produksi dalam suatu priode.Prosedur biaya yang harus diterapkan tergantung pada jenis operasi pabrikasi yang dilaksanakan.
Kalkulasi biaya proses di gunakanakan untuk barang-barang yang di produksi melalui pemprosesan yang berkesinambungan atau melalui proses produksi massal.Kalkulasi biaya proses juga digunakan oleh perusahaan yang memproduksi barang-barang seperti sekrup,alat-alat elektronik ringan,dan oleh industri perakitan,khusus nya jika biaya yang dapat di telusuri ke masing masing pekerjaan tidak mudah atau praktis.

Karakteristik dari kalkulasi biaya proses:
1.      Biaya di bebankan keperkiraan barang dalam proses pada setiap departemen.
2.      Laporan biaya produksi digunakan untuk mengumpulkan,mengikhtisarkan,dan menghitung biya per unitdan total biaya.
3.      Barang dalam proses pada akhir priode akan dinilai kembali dalam satuan unit ekuivalen.
4.      Biaya-biaya dari unit-jadi pada satu departemen akan di transfer ke departemen pemprosesan berikutnya agar pada akhirnya dapat diketahui total biaya untuk barang jadi selama satu priode,dan biaya yang harus dibebankan ke barang dalam proses.

Kalkulasi Biaya per Departemen

Pada perusahaan pabrikasi,proses produksi dapat berlangsung melalui beberapa departemen.Setiap departemen melaksanakan suatu operasi yang spesifik atau suatu proses yang mengarah pada penyelesaian produk.
Dalam kalkulasi biaya proses,total biaya dan biaya per unit pada setiap departemen akan di ikhtisarkan dalam laporan biaya produksi yang akan dipaparkan dan dibahas dalam bab ini.Dalam laporan ini,biaya unit-jadi akan di gunakan untuk menghitung biaya unit-unit yang masih dalam proses.Pemisahan biaya untuk unit yang di transfer dan untuk persediaan barang dalam proses pada setiap departemen di perlukan untuk pengendalian biaya.

Arus Produk

Tiga bentuk arus atau aliran produk yang berkaitan dengan kalkulasi biaya proses adalah :

Arus produk berurutan(Sequential product Flow).
Pemprosesan bahan di mulai di Departemen peracikan,dengan menambahkan biaya pekerja dan overhead pabrik.Apabila pekerjaan di departemen ini selesai,produk akan di pindahkan ke Departemen Pengujian.kemudian proses pengolahan berikutnya mungkin akan menambah bahan atau hanya menambah biaya pekerja dan overhead pabrik pada pekerjaan yang baru selesai sebagian seperti dalam contoh ini.Setelah produk selesai dip roses diDepartemen Perampungan,barang tersebut telah lengkap dan menjadi bagian dari barang jadi.

Arus Produk Sejajar (parallel product flow).
Dalam arus produk sejajar,bagian tertentu dari pekerjaan dilaksanakan secara serempak atau berbarengan,kemudian bersama-sama di transfer k proses penyelesaian atau proses akhir dan akhirnya di teruskan ke Barang jadi.

Arus Produk Selektif(Selective Produck flow).
Dalam arus selektif,produk bergerak melalui Departemen yang berbeda-beda di pabrik,sesuai dengan produk akhir yang di inginkan.Perkiraan-perkiraan di bawah ini menggambarkan arus selektif dalam sebuah pabrik pengolahan daging.Sesudah proses pemotongan awal selesai,beberapa hasil produksi nya langsung di kirim ke departemen pengasapan kemundian baru ke departemen Pengepakan dan ke Barang Jadi.Sebagian lagi di kirimkan ke departemen penggerindaan lalu ke departemen pengepakan dan akhir nya ke Barang Jadi.

Akumulasi untuk Biaya Pesanan,Pekerja,dan Overhead Pabrik

Biaya Bahan.
Dalam kalkulasi biaya pesanan,surat permintaan bahan merupakan dasar guna membebankan bahan langsung ke pekerjaan tertentuyang bersifat khusus.Namun,jika surat permintaan ini di gunakan dalam kalkulasi biaya proses,rincian nya akan jauh berkurang karena bahan akan dibebankan ke departemen,dan bukan ke proses,dan jumlah departemen yang menggunakan bahan biasanya jauh lebih kecil daripada jumlah pesanan yang di tangani perusahaan dalam suatu masa tertentu.
Ayat jurnal yang lazim di gunakan untuk mencatat bahan langsung yang di gunakan selama satu priode adalah sebagai berikut:
Barang dalam proses-departemen peracikan………………2500
Bahan………………………………………………………………………..24500



Biaya Pekerja.
Pekerjaan klerikal yang terinci dalam mengakumulasikan biaya pekerja untuk setiap pesanankerja tidak perlu ada dalam kalkulasi biaya proses karena biaya pekerja akan diidentifikasi dan di bebankan ke departemen-departemen.
Ikhtisarnya adalah sebagai berikut :
BDP-Departemen Peracikan……………………….29140
BDP-Departemen Pengujian………………………37310
BDP-Departemen Perampungan…………………..32400
            Gaji…………………………………………………….98850
           



Biaya overhead pabrik.
Baik dalam kalkulasi biaya pesanan maupun dalam kalkulasi biaya proses,biaya overhead pabrik arus harus di akumulasikan dalam akumulasi besar tambahan overhead pabrik untuk departemen produksi dan jasa.
Ayat jurnalnya adalah sebagai berikut :
Pengendali Overhead pabrik……………81500
Hutang usaha………………………………24500
Akumulasi penyusutan mesin…………….42500
Asuransi dibayar dimuka………………….8000
Bahan………………………………………4500
Upah……………………………………….2000

Penggabungan biaya pekerja dan Overhead pabrik.
Meningkatnya tingkat otomasi telah menyebabkan biaya pekerja menjadi proporsi yang menurun dari total biaya pabrikasi.


 B.LAPORAN BIAYA PRODUKSI

Laporan biaya produksi untuk sebuah departemen akan memperlihatkan:
1.      total biaya dan biaya per unit yang ditransfer dari departemen sebelumnya;
2.      biaya bahan,pekerja,dan overhead pabrik yang di tambahkan di departemen tersebut;
3.      biaya perunit yang di tambahkan didepartemen tersebut;
4.      total biaya dan biaya perunit yang di akumulasikan pada akhir priode departemen tersebut;
5.      nilai(harga pokok) persediaan awal dan persediaan akhirbarang dalam proses,yang berada dalam salah satu tahap penyelesaian kerja;dan
6.      biaya yang di transfer ke departemen berikutnya atau ke gudang barang jadi.

Departemen Peracikan

Unit-unit yang di laporkan oleh departemen peracikan dinyatakan dalam satuan gallon.Pada umumnya,setiap departemen harus melaporkan unit-unitnya dalam satuan barang jadi.

Produksi ekuivalen.
Kuantitas produksi ekuivalen mencerminkan jumlah unit – jadi yang dihasilkan dengan menggunakan bahan,pekerja,dan overhead yang dikeluarkan selama satu priode yang tersedia untuk menyelesaikan unit tersebut.Dalam rangka menghitung biaya perunit menurut unsure-unsur biaya tersebut,sebagai pembagi maka jumlah biaya bahan,pekerja, dan overhead dari departemen bersangkutan akan di bagi dengan kuantitas produksi ekuivalen.

Biaya per unit.
biaya per unit yang tepat di perlukan untuk mengidentifikasi biaya dari unit yang di transfer ke luar,biaya dari unit yang hilang secara abnormal dan biaya per unit dari persediaan barang dalam proses.Pada sejumlah operesi pabrikasi,biaya yang di kenakan pada persediaan barang dalam proses atau persediaan barang jadimungkin relative kecil.Akan tetapi biar bagaimanapun biaya per unit menyajikan informasi vital untuk pengendalian biaya dan pengambilan keputusan.

Disposisi biaya departemental.
Unit yang hilang.Jika ada produksi yang hilang selama pemprosesan di departemen pertama,maka total biaya akan di bebankan secara merata pada jumlah unit utuh yang tersisa.Dengan demikian unit yang hilang akan mengakibatkan kenaikan biaya per unit dari unit utuh yang tersisa.Asumsi disini menyatakan bahwa unit yang hilang adalah normal,yaitu,dalam batasan toleransi yang dapat diterim, dan hal itu bisa diterapkan pada semua unit,tanpa memandang apakah unit-unit tersebut ditransfer keluar atau kedalam persediaan akhir.

Departemen pengujian
Laporan biaya produksi dari Departemen Pengujian,berbeda dengan laporan biaya produksi dari departemen peracikan dalam beberapa hal.Ada beberapa tambahan perhitungan yang telah disediakan tempatnya dalam laporan tersebut.Informasi tambahan ini mencakup
(1) biaya yang diterima dari departemen terdahulu,
(2) penyesuaian atas biaya per unit departemen terdahulu karena adanya unit yang    hilang,dan
(3) biaya yang diterima dari departemen terdahulu yang harus dimasukkan dalam biaya
      persediaan akhir barang dalam proses.

Laporan biaya produksi untuk Departemen Pengujian menunjukkan bahwa departemen ini juga bertanggung jawab atas biaya dari unit-unit yang diterima dari departemen peracikan.
Unit yang hilang di Departemen Sesudah departemen pertama
Disposisi Biaya Departemen Pengujian

Departemen Perampungan

Biaya yang di bebankan ke Departemen Perampungan berasal dari daftar gaji dan dari kartu analisis biaya departemen.Biaya ini mencakup juga biaya yang dipindahkan dari Departemen Pengujian melalui ayat jurnal:

Barang dalam proses-Departemen Perampungan…………..140400
Barang dalam proses-Departemen Pengujian………………….140400

Laporan biaya produksi gabungan
Laporan ini mungkin sekali akan digabung ke dalam satu laporan tunggal yang mengikhtisarkan operasi pabrikasi peusahaan untuk suatu priode tertentu.


C.FAKTOR LAIN DALAM MEMPERHITUNGKAN UNIT YANG HILANG

Baik di departemen pengujian maupun departemen peracikan dan departemen perampungan,telah di asumsikan bahwa kerugian yang berasal dari unit yang hilang dibebankan pada semua unit yang utuh dan kehilangan unit ini masih dalam batas toleransi yang normal.Maka kerugian akibat unti yang hilang akan menaikkan biaya unit-jadi dan unit dalam proses.

Waktu Terjadinya Kehilangan Unit

Ada kemungkinan biaya unti yang hilang tidak dapat dibebankan ke persediaan akhir barang dalam proses,karena kehilngan tersebut terjadi dalam tahap lanjutan untuk menyelesaikan barang dalam proses yang ada saat ini.Sehingga dalam hal ini,kerugian akibat unit yang hilang hanya dapat dibebankan pada unit-jadi di departemen yang bersangkutan.tidak ada bagian kerugian yang di bebankan kebagian unit yang masih dip roses.

Kehilngan Unit yang Normal dan Abnormal
Unit yang hilang dapat terjadi karena penguapan,penyusutan,hasil di bawah standar,pekerjaan yang rusak,cara kerja yang buruk,atau peralatan yang tidak efisien.Pada umumnya,sifat operasi perusahaan akan menyebabkan kerugian normal atau yang tidak dapat di elakkan.Jika kerugian seperti itu dianggap berada dalam batas toleransi yang normal untuk kesalahan manusia dan kesalahan mesin,maka biaya unit yang hilang tidak akan disajikan sebagai unsure biaya tersendiri tapi di bebankan ke unit utuh yang tersisa.
Situasi yang berbeda akan timbul dengan adanya kerugian abnormal atau yang dapat dielakkan,dan yang diperkirakan tidak akan terjadi dalam kondisi poerasi yang normal dan efisien.Pada kenyataan nya,beberapa proses menghasilkan kebijakan cacat nol.Dalam kasus demikian,setiap kehilangan dianggap sebagai sesuatu yang abnormal.Disini,prosedut yang digunakan kembali mencakup perhitungan biaya yang di dasarkan pada produksi ekuivalen untuk unit-unit yang utuh di tambah unit yang hilang.Oleh karena itu,tidak ada penyesuaian yang diperlukan untuk biaya per unit departemen terdahulu..Perkalian antara unit yang hilang dengan biaya per unit tersebut menghasilkan biaya yang akan diterapkan dikaitkan pada kerugian abnormal.Biaya ini akan di bebankan ke overhed pabrik atau pada perkiraan beban priode berjalan yang akan dilaporkan sebagai suatu pos terpisah dalam perhitungan rugi laba.Prosedur seperti ini mengasumsikan bahwa kalkulasi biaya menggunkan tariff overhead yang di tentukan terlebih dahulu.Jika tidak,biaya kerusakan abnormal wajib dibebankan ke perkiraan beban priode berjalan.Sekira nya prosedur di atas tidak di ikuti,maka biaya ini akan diperhitungkan dalam tariff overhead pabrik aktual,sehingga termasuk dalam harga pokok produksi.



Barang Rusak
Setiap biaya yang diperlukan untuk memperbaiki barang rusak dilaporkan sebagai tambahan biaya beban,pekerja,dan overhead pabrik asalkan tingkat kerusakan dalam batas normal.Unit-unit produksi ekuivalen tidakkan terpengaruh.Akan tetapi untuk keperluan pengendalian biaya,manajemen boleh berharap untuk memiliki tambahan laporan pelengkap dari bagian unsure biaya yang dikeluarkan untuk memperbaiki unit yang rusak.Biaya barang rusak yang melebihi batas normal harus di laporkan secara terpisah dan harus dibebankan pada periode akuntansi berjalan.

D.PENAMBAHAN BAHAN

Penambahan biaya di departemen kedua dan seterusnya bisa mempengaruhi unit-unit dan biaya dalam proses dengan dua cara:

1.      Penambahan bahan akan menaikkan biaya per unit,karena biaya bahan ini menjadi bagian dari biaya barang yang di produksi,sedangkan unit barang yang diproduksi tidak bertambah.
2.      Bahan tambahan akan menambah jumlah unit yang diproduksi dan juga mengakibatkan perubahan biaya per unit.

Kenaikan biaya per unit
Dalam kasus yang paling sederhana,penambahan bahan seperti suku cadang pada sebuah mobil,tidak akan menambah jumlah unit barang jadi,namun akan menaikkan total biaya dan biaya per unit.Akibatnya perlu di perhitungkan biaya per unit untuk bahan di departemen yang bersangkutan,dan biaya bahan ini harus termasuk dalam persediaan barang dalam proses.

Pertambahan Unit Barang Jadi dan Perubahan Biaya per Unit
Jika penambahan bahan mengakibatkan bertambahnya jumlah unit barang jadi,maka diperlukan perhitungan yang berbeda.Dengan bertambahnya unit barang jadi,biaya per unit akan menurun sehingga perlu diadakan penyesuaian dalam biaya perunit departemen yang terdahulu,karena jumlah unit yang bertambah akkan menyerap total biaya yang sama yang ditransfer dari departemen terdahulu.
Hal yang khusus dalam situasi penambahan ini adalah pentesuaian biaya per unit dari departemen terdahulu.Biaya total yang ditransfer dari departemen terdahulu yang di bebankan ke departemen penampungan,kini harus di alokasikan pada jumlah unit yang lebih besar,sehingga akan menurunkan biaya untuk unit yang di terima dari departemen terdahulu.

3 komentar:

  1. Dr berbagai macam blog yg sy masuki, akhirnya blog ini bs menyelesaikan pncarian..
    Thanks

    BalasHapus
  2. iya sama-sama mbak arifa, semoga bermanfaat..

    BalasHapus

Jangan lupa komentarnya ya!!!!!!